FREEWRITING ALA PAK FIRMAN

                            Pertemuan Keempatbelas Belajar Menulis Gelombang 12

Hari Rabu, 1 Juli 2020

Pemateri : M. Firman Suwarya, M.Kom.

Disusun Oleh : Dian Sariati, M.Pd.



Niat awal, pertemuan malam ini inginnya bisa langsung buat resume, apa daya, pekerjaan lain yang sudah menanti, xixi... khas emak-emak, plus malam sudah semakin larut dan mata sudah tidak bisa diajak kompromi. Alhamdulillah, memaksakan diri, jadilah resume ini, yang masih "ngarangkak" kalau anak bayi mah, yang penting berusaha dan berusaha ✊

Malam ini pertemuan mendatangkan seorang penulis yang masih muda, seorang guru dari Indramayu yang mengajar di SMPN Unggulan Sindang Indramayu yang sudah menelurkan buku informatika dan buku-buku lainnya. Beliau biasa disapa Pak Firman. Pada pertemuan kali ini Pak Firman memaparkan dengan bahasa yang lugas tentang FreeWriting, yaitu teknik menulis cepat tanpa hambatan.

Pak Firman mengumpamakan freewriting itu seperti saat kita akan menempuh suatu ujian yang sangat menentukan hidup kita. Ketika akan mengikuti ujian itu, ternyata diluar perkiraan kita terlambat. Maka apakah yang akan kita lakukan? He.. kalau emak-emak mungkin sudah nangis aja kali ya 😂, tapi tidak, ketika waktu pengerjaan tinggal sedikit lagi, karena ini menyangkut hidup kita, maka kita akan "Ngebut" untuk mengerjakan ujian itu dengan harapan hasil yang sebaik-baiknya. Kita betul-betul ngebut mengisi soal ujian itu karena kejar-kejaran dengan waktu.... Nah, inilah gambaran singkat yang diberikan Pak Firman tentang FreeWriting.

Langkah  yang harus kita lakukan supaya bisa FreeWriting adalah
  1. Segera tulis ide yg muncul.  tulis sebelum ide itu hilang, dan ini adalah hal mudah, kapan dan dimanapun, menulislah. Ide yg paling baik adalah ide yang kita kenal dan kuasai, sehingga nanti tulisan datang dari hati, itulah kuncinya. Jika kita menulis dengan hati maka ini biasanya akan mampu menyentuh hati pembaca.
  2. Hingga nanti akan menemukan sebuah komitmen bahwa jelek, kurang bagus, bagus, atau sejenisnya pokoknya ditulis, karena nanti akan ada proses editing
  3. Baru setelah itu mulai belajar membuat outline. Outline secara garis besar pokoknya harus selesai.
  4. Pengembangan Outline yang sudah kita susun garis besarnya satu persatu.
  5. Meluangkan waktu khusus untuk menulis.
Inti dari FreeWriting, pokoknya tulis secepat-cepatnya terhadap ide yg muncul,  jangan takut salah,  jangan takut keliru, takut jelek hasilnya, apalagi takut salah ketik, pokoknya tulis dan tulis sampai habis. Modalnya  ide, dan ide bisa muncul dari mana saja, bahkan saat kita di toilet ide bisa saja muncul (hehe..). atau sat naik angkutan umum yang sedang penuh sesak oleh penumpang, ide bisa saja muncul, pokoknya tulis saja sampai selesai.  Hal-lain lain dalam Free Writing nanti pd saat proses editing. Hasil tulisan yg berkualitas atau kurang berkualitas biasanya, bisa ditentukan dari faktor ide yang muncul,  jika ide yg muncul bagus dan berkualitas, lalu lanjut dengan outline yg berkulaitas, maka hasil tulisan juga akan tidak jauh dari situ, yaitu bagus dan berkualitas. Dalam prakteknya menulis berkualitas terkadang menuntut kita agar mengikuti, mematuhi dan lain-lain sebelum tulisan itu selesai ditulis,  sehingga tulisan kita akhirnya tidak selesai.

Lingkaran Setan Kebuntuan
Baru kali ini mendengar istilah seperti ini. He he.. ternyata menurut Pak Firman itu adalah penyakit seorang penulis, baik penulis pemula maupun penulis yang sudah handal sekalipun. Menurut pak firman menulis itu membutuhkan waktu berjam-jam, hingga bertemu dengan efek rasa bosan yang membelenggu. Tanda-tanda penyakit ini adalah:
  1. Tiba-tiba ide-ide yang kita punya hilang entah kemana..
  2. Bingung harus nulis apa lagi,
  3. Pusing, cape, lelah, malas untuk menulis,
  4. Selalu berganti ide dan bingung memilih ide yang lebih baik, sehingga akhirnya mandeg/berhenti.
Kondisi seperti diatas itulah menurut Pak Firman sebagai Lingkaran Setan Kebuntuan dalam dunia kepenulisan. Hingga akhirnya kita akan berfikir bahwa kita tidak memiliki bakat untuk menulis. (he.. saya banget!). Nah, ternyata itu menghinggapi hampir semua orang, tetapi dengan metoda FreeWriting ini Pak Firman bisa keluar dan terbebas dari semua penyakit itu setelah mempraktekan FreeWriting.

Bahasa penyampaian yang enak dan lugas membuat resume diatas banyak kata-kata beliau yang tidak saya edit lagi. Di akhir Pak Firman mengatakan bahwa rasa bosan adalah penyakit yang sangat berbahaya melebihi Covid-9. Hati hati dan waspada dia menyerang dengan tiba tiba maka kita harus pupuskan dengan coba dan coba lagi. Sampai kapan kita harus mencoba? Maka jawabannya sampai kita sukses.  Yakin dan percaya lah, siapa pun bisa jadi apa pun asalkan dia mau berusaha dan berdoa, dan kunci utamanya adalah percaya diri.

Untuk permasalahan penerbitan buku, masing-masing penerbit memiliki kelebihan dan kekurangan, baik itu penerbit Indie ataupun Major. Penerbit Indie lebih mudah dan lebih cepat selesai.

Waah... Super banget. Mudah-mudahan dalam kegiatan belajar menulis ini, saya betul-betul bisa bertahan dan bisa selalu semangat !! Makasih Pak Firman, begitu menginspirasi dengan FreeWriting nya.





Dian Sariati, M.Pd.
SMPN 1 Cibogo, Subang Jawa Barat
Email : dian.sariati72@gmail.com
Blog : DianSariati.blogspot.com
FB: Dian Sariati
IG : dian sariati

Comments

  1. first coment Bu, satenya dobel nih

    ReplyDelete
  2. salam kenal ibuk..saya dr gelpmbang 8... semangat yuuk nulis ide datang langsung tulis...

    ReplyDelete
  3. Keren Bu...
    Tetep semangat menulis resume.. 😊🙏

    ReplyDelete
  4. Mantap..biasa ya..emak emak seperti itu.. Udah beres beres baru bisa emang hp....😊
    Jgn lupa mampir di aisah1969.blogspot.com

    ReplyDelete
  5. Luar biasa...jd inspirasi yg menyenangkan

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts